
Insomnia merupakan sebuah gejala yang diidentifikasikan sebagai penyakit yang menyebabkan penderitanya kesulitan untuk tidur dimalam harisecara normal. Menurut beberapa ahli kesehatan insomnia mampu mengakibatkan seorang penderitanya mengalami saraf pikiran dan merangsang tingkat emosi sehingga sulit terkendali. Beberapa dari para penderita insomnia menggunakan obat tidur ataupun zat penenang sebagai alternatif cara untuk bisa beristirahat secara teratur, meskipun hal ini menyebebabkan ketergantungan secata berkala bagi para pengguna zat penenang tersebut. Adapun faktor-faktor-faktor yang mendukung percepatan insomnia didalam diri seseorang dapat didentifikasikan kedalam beberapa pola, yakni akibat perjalanan jauh, kerja dimalam hari, penggunaan alkohol secara berlebihan, penggunaan zat penenang yang melebihi takaran medis dokter, hingga gangguan psikis seperti stroke dalam diri seseorang. Pada dasarnya penderita insomnia memiliki waktu tidur yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan orang lain pada umumnya.
Menurut James Rawley (2005) penderita insomnia dapat diklasifikasikan kedalam tiga (3) golongan seperti insomnia kronis, insomnia transian, dan insomnia pemula. Menurutnya insomnia kategori pemula hanya terjadi 1-2 minggu sebelum akhirnya seorang penderita dapat kembali ke pola tidur normal sebelumnya. Kemudian insomnia transian (insomnia transisi) yang memiliki rentang waktu lebih dari 2-3 minggu, sedangkan seseorang dapat dikatakan menderita insomnia kronis ketika ia kesulita untuk tidur normal dalam rentang waktu lebih dari 3 minggu hingga 6 bulan.
Adapun solusi menurut beberapa ahli kesehatan dalam menyikapi insomnia sebagai sebagai kondsisi yang mengganggu pola tidur tersebut hendaknya seorang penderita menciptakan situasi ataupun kondisi untuk tetap tenang, menghindari cahaya dan suaa-suara yang berisik. Menurut WHO ada 12 aturan main yang harus dipatuhi oleh seorang penderita insomnia, Pertama berbaringlah sejenak sebelum tidur, kedua fokuskan aktivitas didalam tempat tidur guna merangsang kondisi untuk beristirahat, ketiga gunakan alarm untuk membatasi rentang waktu tidur guna menghindari rentang waktu tidur yang berlebihan (diusahakan menggunakan alarm pada pagi hari), keempat hindari kebiasaan untuk tidur disiang hari, kelima hindari mengkonsumsi alkhol beberapa jam sebelum hendak tidur karena hanya akan merangsang kegelisahan pada seorang penderita insomnia, ketujuh usahakan hindari nikotin dan kafein (kopi)karena hanya akan merangsang denyut jantung untuk kembali beraktivitas kembali, terakhir pastikan tidak ada cahaya yang masuk kedalam kamar dan selalu meluangkan waktu untuk berolahraga (minimal 20 menit) guna meningkatkan metobolisme dalam tubuh yang berimplikasi pada normalisasi pola tidur pada umumnya
Kebutuhan magnesium dan kalsium sebaiknya dipenuhi karena kekurangan keduanya dapat meyebabkan tidur tidak nyenyak. Magnesium dapat merelaksasikan otot dan kalsium berefek sebagai penenang pikiran. Dalam hal ini magneium dan kalsium dapat dengan mudah kita temukan didalam susu. Selain magnesium dan kalsium, karbohidrat yang terdapat pada roti dapat juga memacu pengeluaran serotin guna merangsang rasa kantuk karena serotin dipicu oleh asam amino triptofan yang terdapat pada susu, selain itu triptofan juga memicu pengeluaran hormon melatonin yang memerintahkan tubuh untuk untuk istirahat. Hormon ini akan dikeluarkan ketika sinar matahari mulai redup
Karena didalam sebuah survey terhadap lebih dari 1 juta penduduk Amerika oleh American Cancer Society menemukan bahwa mereka yang dilaporkan tidur sekitar 7 jam setiap malam memiliki tingkat kematian terendah, sedangkan orang-orang yang tidur kurang dari 6 jam atau lebih dari 8 jam lebih tinggi tingkat kematiannya. Tidur selama 8,5 jam atau lebih setiap malam dapat meningkatkan angka kematian sebesar 15%. Insomnia kronis - tidur kurang dari 3,5 jam (wanita) dan 4,5 jam (laki-laki) juga dapat menyebabkan kenaikan sebesar 15% tingkat kematian. Setelah mengontrol durasi tidur dan insomnia, penggunaan pil tidur juga berkaitan dengan peningkatan angka kematian. So, Jangan menyepelekan insomnia karena dapat memacu seseorang menuju tempat peristirahatan terakhirnya jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.
No comments:
Post a Comment