
Manusia autis ( untuk menyebutkan orang yang mempunyai sikap,pendirian, tingkah laku autisme )sebenarnya merupakan suatu kecendrungan proses “ menjadi “ manusia. Untuk mencapai proses tersebut jelas ada tahapan – tahapan tertentu yang dilalui. Oleh karena itu. Autisme akan berdampak positif jika hanya dijadikan alat “ untuk menjadi manusia “ dan bukan tujuan. Jika autisme dijadikan tujuan paling tidak ada beberapa implikasi negative. Pertama, orang autistis cenderung “ sosial “. Ibarat katak dalam tempurung. Artinya, dia akan memandang dirinya dan kelompoknya yang paling benar dan melihat kelompok atau orang lain tidak ada kaitannya dan tidak ada benarnya. Orang ini, kalau sudah berhubungan dengan kebenaran “ korps “ akan membela mati – matian, apapun akibatnya. Terlebih lagi jika ada “ sponsornya “. Fenomena ini sebenarnya mengingkari pula kodrat manusia sebagai makhluk sosial, “ zoon politicon-nya.aristoteles atau “ manusia bukan sebuah pulau yang cukup diri dan ia merupakan kepingan dari benua “ dari John Donne. Akibatnya, ia juga cenderung mengingkari nilai sosial yang hidup disekitarnya.. bahwa masyarakat mempunyai nilai, norma dan pranata yang universal dan mengikat semua orang, tak diakuinya. Jika ada kelompok lain yang berkuasa dengan sangat apriori ia mengkritik, sampai memojokkan dan ingin menggantikkannya.
Kedua, orang autis ibarat bangunan yang rapuh. Kenapa ? karena segala sesuatu diukur dari wawasan, pandangan, tolak ukur diri dan kelompoknya. Ia tidak memanfaatkan pengalaman dan pertimbangan dari kelompok lain. Dengan demikian, orang seperti ini berada dalam keadaan tidak pernah puas dengan keadaan sekelilingnya. Tyngkah lakunya ditunjukan dengan oposan. Kompromi sebagai salah satu tata pergaulan manusia dianggapnya sebagai “ pengkhianatan “. Sikap – sikap semacam ini menjadi rapuh karena cenderung melawan arus. Dalam aktualisasinya, jika ia punya program, tidak akn mendapat simpati orang banyak kerena selama ini orang banyak itu dianggap tidak ada artinya, tidak perlu menjadi pertimbangan dan bahkan dianggap tidak ada. Ibarat ia akan mendirikan sebuah bangunan ia tidak mempunyai pondasi yang kokoh ( karena kurangnya dukungan banyak pihak ).
Disamping mempunyai implikasi negative, orang autis mempunyai implikasi positif . pertama ,autisme bias menunjukan suatu sikap alternative di tengah masyarakat yang bermental missal, asal selamat, rubuh – rubuh gendang ( ikut – ikutan ), dan kehidupan yang sangat “ tergantung “. Kedua, autisme bias menjadi symbol berlawanan untuk kekuasaan yang absolute dan tanpa control secara efektif. Ditengah kekuasaan yang otoriter, ia uncul sebagai kehadirannya, ketika Soeharto pada [uncak kekuasaanya, kehadiran dan demonstrasi mahasiswa menjadi symbol perlawanan dan mahasiswa dianggap pahlawan.
No comments:
Post a Comment