
Pendahuluan
Semua berawal dari aksi teror di kota Manchester, Inggris yang dilakukan oleh organisasi terorisme internasional yang memiliki tujuan untuk memusnahkan orang kafir (AS). CIA (badan intelejen AS) kemudian menyelidiki kasus ini dan mendapatkan informasi bahwa aktor utama pengeboman yang terjadi dikota Manchester berada dibawah perintah Al-Salim (Amman, Yordania). Hal ini didasarkan pada hasil penelusuran mendalam yang dilakukan oleh Ferris sebagai agen CIA terhadap salah satu calon martir yang menolak mengorbankan dirinya untuk melakukan bom bunuh diri, hingga penelusuran terhadap calon martir lain yang rela mati demi agama (mati syahid). CIA (Edward Hoffman) segera mengirimkan agennya (Ferris) untuk menangkap dan membongkar jaringan terorisme yang berada di bawah komando Al-Salim. Didalam usaha menangkap dan membongkar jaringan terorisme (Al-Salim) yang diduga berada dikota Yordania, Ferris ditugaskan untuk segera menemui Hanni Salim (pimpinan GID, lembaga intelejen AS yang berada dikota yordania) yang notabene telah mengetahui benar posisi Al-Salim dan pengikutnya. Hanni Salim memiliki karakter yang khas yakni ia paling membenci sebuah kebohongan dan menunjukkan kepada Ferris tempat dimana ia menyiksa orang-orang yang telah berbohong kepadanya. Hanni Salim kemudian memberikan informasi tentang keberadaan Omar Sadiki selaku donatur tetap yang ikut serta didalam pembiayaan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Al-Salim dan para pengikutnya yang berjuang atas dasar agama (Jihad) melawan dominasi negara Al-Salim ternyata mengetahui rencana CIA untuk menangkapnya, sehingga ia menculik Ferris yang ditinggalkan oleh Hanni Salim dan pasukaanya di padang gurun dan membawanya ke suatu tempat untuk disiksa karena dianggap sebagai kaki tangan CIA (AS, digambarkan sebagai musuh umat islam). Jari-jari tangannya dihancurkan dengan menggunakan palu hingga patah. Pada akhirnya Ferris berhasil selamat dari kematian walaupun Hanni Salim dan pasukannnya datang terlambat untuk menyelamatkan Ferris dari penculikan yang dilakukan oleh Al-Salim, Al-Salim sebenarnya telah berhasil lolos dari penyergapan yang dilakukan oleh Hanni Salim dan pasukannya namun ia justru sudah ditunggu dimobil oleh anak buah Hanni Salim yang menyamar sebagai supir Al-Salim (sehingga misi untuk menangkap Al-Salim sudah selesai). Pada akhir cerita Hanni Salim memberitahukan kepada Ferris yang masih dalam perawatan di rumah sakit bahwa itu hanya sebuah skenario yang dilakukannya untuk mengelabui CIA dalam usaha mendapatkan uang yang ada dalam organisasi (terorisme Al-Salim) dengan maksud tidak mendapatkan gangguan dari CIA yang lebih fokus kepada usaha penangkapan Al-Salim. Karena apabila CIA mengetahui bahwa A-Salim memiliki dontatur yang membiayai organisasinya (Omar Sadiki) maka rencana Hanni Salim untuk mendapatkan uang tersebut akan lenyap hanya karena adanya campur tangan CIA dalam urursan ini.
Critical Review
Ada sesuatu yang menarik dari cerita ini yang berkaitan dengan mata kuliah agama dan demokrasi yakni peranan Al-Salim sebagai motor penggerak untuk melakukan aksi teror terhadap negara (AS dan sekutunya yang dianggap kafir) dengan mengatasnamakan kepentingan agama (Islam). Al-Salim melakukan pengkaderan untuk melakukan bom bunuh diri dengan membenarkan bahwa mati (Syahid) dalam usaha untuk membela agama (Jihad) akan mendapatkan surga. Padahal seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa hubungan manusia dan Tuhan itu bersifat personal namun disini Al-Salim seolah-olah memiliki otoritas untuk memberikan surga dengan asumsi dia bisa memanfaatkan isu hubungan manusia dengan Tuhan (yang seharusnya bersifat personal) untuk merealisasikan kepentingannya yakni penolakan terhadap agama lain (dalam hal ini digambarkan pada negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah non-islam) dengan memberikan janji untuk masuk surga jika ada orang yang rela mati untuk agama. Karena Al-Salim merupakan orang yang cukup berada di masyarakat (kemungkinan besar ia juga memiliki kepentingan lain yang terkandung didalamnya). Perlu diingat bahwa pada dasarnya tidak ada ajaran agama yang bertujuan untuk menyesatkan umatnya melainkan untuk memberikan pedoman kepada umatnya untuk dapat hidup lebih baik.(aman, damai dan harmonis) Sikap Al-Salim ini dapat dimaklumi karena pada adegan terakhir (pasca-penyiksaan Ferris) dijelaskan bahwa Al-Salim memiliki pemahaman yang sempit terhadap agama (memanfaatkan beberapa ayat dalam Al-Quran untuk meluruskan kepentingannya) karena ia hanya membaca beberapa bagian dari Al-Quran dan menggeneraliasikan makna perintah Tuhan yang terkandung didalam Al-Quran tersebut, sehingga terjadi kesalahan dalam menafsirkan perintah Tuhan dengan situasi dan kondisi saat ini. Karena apabila dikritisi lebih dalam lagi makna dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa sebenarnya latar belakang munculnya ayat tersebut karena pada zaman dulu masih berada didalam masa peperangan dan sibuk mempertahankan diri dari penjajahan bangsa lain, sehingga ironis jika metode tersebut masih terjadi pada masa kini. Sementara Al-Salim pada dasarnya hanya menggunakan Agama sebagai alat hidup dan bukan sebagai pedoman hidup yang baik. Apakah mungkin ketika ada orang yang berpedoman kepada ajaran agama (kebaikan) justru melakukan perbuatan yang sebenarnya dilarang oleh agama itu sendiri (membunuh), karena agama pada dasarnya menuntun manusia untuk dapat hidup secara aman, damai dan harmonis serta melarang penggunaan kekerasan dalam kehidupan sehar-hari, terutama jika agana digunakan sebagai Alat pemenuhan keperntingan (Arogansi Al-Salim terhadap AS dan sekutunya). Karena ketika agama telah dijadikan alat pemenuhan kepentingan akan timbul sebuah kekacauan dalam masyarakat.
Pesan yang bisa dipetik dalam film ini yang berkaitan dengan materi kuliah agama dan demokrasi adalah janganlah menggunakan agama sebagai alat pemenuhan kepentingan pribadi terhadap orang lain, karena agama pada dasarnya hanya mengatur hubungan manusia dan Tuhaannya secara personal dan bersifat privat. Dan didalam melakukan pengkritisan terhadap ajaran agama perlu dilakukan secara utuh sehingga pesan yang disampaikan Tuhan kepada manusia melalui kitab suci dapat diartikan secara tepat dan benar tanpa ada kesalahan dalam penafsiran yang mengakibatkan pada perilaku yang menyimpang.
No comments:
Post a Comment